Sudah lama rasanya masyarakat memimpikan kehadiran Monorail di Jakarta, namun hal itu tak kunjung jadi nyata. Kini, masyarakat sudah terlanjur menelan janji baru dari Pemerintah Kota tentang instalasi Mass Rapid Transit (MRT). Apakah yang satu ini kunjung jadi nyata?

Pergunjingan

Jika kamu melintasi daerah Jakarta Selatan , khususnya Fatmawati dan sekitarnya, kamu akan menemukan spanduk-spanduk besar bertuliskan, “Mendukung !!! MRT Subway (Bawah Tanah) & Menolak !!! MRT Layang”, hal tersebut terjadi karena beberapa pihak memilih untuk pro dan kontra terhadap masalah ini.

Beberapa pihak mengeluhkan tentang kemacetan yang kerap terjadi di daerahnya, untuk itu mereka mendukung penuh agar MRT layang dan bawah tanah cepat rampung. Di sisi lain, beberapa pihak justru menolak dibangunnya MRT layang dengan banyak alasan, seperti akan adanya penggusuran ketika tiang pancang hendak terpasang.

Pergunjingan ini kian memanas sampai sekarang. Sementara Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan mengaku bahwa seribu warga Cilandak dan Kebayoran Baru telah memberikan dukungan terhadap pembangunan MRT jalur layang.

Spanduk menolak MRT-Jakarta Punya Cerita'

Foto: Kompas

Superioritas

Mengapa mereka bersikukuh untuk mendukung dan menolak MRT layang?

Andaikan MRT layang jadi diresmikan, otomatis lapangan pekerjaan akan menambah, dan kemacetan pun berkurang karena pilihan transportasi sudah semakin banyak. Masyarakat tak perlu lagi menggunakan kendaraan pribadi, sebab pilihan transportasi sudah semakin banyak, dan hal itulah yang diharapkan oleh pemerintah guna mengurangi tingkat kemacetan di Jakarta.

Jalur MRT layang akan dibangun pada ruas Lebakbulus-Sisingamangaraja, yang menghubungkan Jalan Fatmawati-Panglima Polim-Blok M-Sisingamangaraja.

Tanggapan

Gubernur DKI Jakarta, Jokowi Dodo, nampaknya tutup mulut menanggapi masalah ini, yang beliau ingin tunjukan adalah hasil, bukan janji. Proyek ini direncanakan akan rampung pada tahun 2017 nanti.

Pihak kontra kian menyebut Jokowi pengecut karena tidak berani berhadapan dengan mereka. Warga kontra hanya ingin berdialog tentang analisis dampak lingkungan yang akan terjadi jika MRT layang dibangun. Namun hal itu tak juga terwujud.

Hal diatas mungkin terjadi karena pihak pro melebihi pihak kontra, bahkan ormas-ormas seperti FKPPI, Forkabi, dan Pemuda Pancasila telah mendukung pembangunan ini.

Bahkan, bagi Taufan Bakri, Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Jakarta Selatan, pihak yang menolak cuma untuk kepentingan bisnis saja.

Nah, bagaimana menurut ente? Melihat pergunjingan yang sudah dijelaskan di atas tadi, apakah proyek MRT jalur layang ini sebaiknya dilanjutkan, atau dihentikan? Komentar dari ente mungkin dapat menyelesaikan masalah ini, demi kenyamanan kita bersama. Silakan berkomentar di bawah sini.

Sumber: Kompas, Okezone, Detik

This post has already been read 902 times!

Let's Share...Email this to someoneShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestPrint this pageShare on RedditShare on StumbleUponShare on TumblrTweet about this on Twitter