“Siapa yang belum pernah naik pesawat?” Biasanya pertanyaan tersebut diajukan oleh guru SD kepada murid-muridnya. Anggap saja kita semua adalah murid-muridnya, dan tulisan ini menjadi guru yang sepatutnya kamu hormati. Dan, marilah kita menatap ke arah bandara pertama di Jakarta, dengan sendu.

Entah kiasan apalagi yang patut diberikan oleh bandara paling bersejarah di Jakarta, bahkan bersejarah bagi kemajuan Indonesia. Pernah pergi ke daerah Kemayoran? Mungkin Anda akan melihat sebuah menara di kejauhan, dan bertanya-tanya , “Itu menara apa ya?”. Stop sampai disitu, itu menandakan bahwa Anda belum cukup mengenal kota metropolitan yang tercinta ini. Menara itu adalah menara kontrol milik Bandar Udara Kemayoran (bukan bandara, tetapi banda. Walalupun berfungsi sebagai bandara).

sejarah bandar udara kemayoran
Bandara Udara Pertama Di Indonesia

Bandar Udara Kemayoran adalah bandara udara pertama di Indonesia, yang berlokasi di Kemayoran, Jakarta. Bandara ini dibangun pada tahun 1934, namun baru diresmikan pada 8 Juli 1940.

Mungkin pada saat itu Bandar Udara Kemayoran bukan salah satu bandara tersibuk di dunia, namun dapat dipastikan bahwa bandara ini cukup sibuk. Berbagai pesawat milik sipil dan militer beterbangan dan melintas di landasan Bandar Udara Kemayoran. Bahkan, serial kartun TINTIN pernah memasukkan Bandar Udara Kemayoran ke dalam salah satu episodenya yang berjudul “Penerbangan 714 ke Sydney”.

sejarah bandar udara kemayoran, tintin
Sayangnya, Bandar Udara Kemayoran resmi berhenti beroperasi pada 1 Juni 1984. Yang kemudian penerbangan internasional akhirnya dialihkan ke Bandara Halim Perdanakusuma.

Ratapan Sendu Bandara Bersejarah

Kini, Bandar Udara Kemayoran sudah tak lagi terparkir pesawat-pesawat mahal dengan mesin jet yang berukuran besar. Sebab Bandar Udara Kemayoran kini hanya sebatas lahan parkir bagi rumput-rumput liar dan semak belukar, Bahkan para penjaga lahan tersebut mengaku sering melihat penampakan ular yang mungkin sudah bertempat tinggal di semak belukar.

sejarah bandar udara kemayoran
Entah apa yang akan dilakukan oleh pemerintah tentang keadaan yang menimpa bandara bersejarah tersebut. Kabar angin mengatakan bahwa kedua menara akan dijadikan museum, namun seperti halnya angin yang tak terlihat dan cepat sekali menghilang entah kemana.

Kini kita hanya dapat menyaksikan dinding bisu yang kotor dan sumuk, tanpa mengetahui sejarah di balik dinding kotor tersebut.

Apa yang akan dikatakan oleh anak cucu kita nanti? “Di kemayoran ada hutan ya? Hutannya punya menara”. Miris. Miris sekali.

This post has already been read 1039 times!

Let's Share...Email this to someoneShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestPrint this pageShare on RedditShare on StumbleUponShare on TumblrTweet about this on Twitter