Jalan Medan Merdeka Timur diusulkan untuk berganti nama dengan memakai nama Presiden kedua Indonesia, Soeharto. Namun keluarga menolak. Ini alasannya.

Tim Panitia 17 mengusulkan agar nama Soeharto dijadikan nama jalan, menggantikan Jalan Medan Merdeka Timur. Tentunya hal ini mengundang pro dan kontra di masyarakat. Bahkan, para petinggi negara pun ikut berkomentar.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golongan Karya, Priyo Budi Santoso, mendukung pergantian nama tersebut, “Pada zamannya, dia mempunyai jasa-jasa yang cukup besar, dan itu jangan dinihilkan,”. Sementara sejarawan, Anhar Gonggong, menyambut negatif denga berbagai alasan, “Banyak hal, ya, mengenai korupsinya, pembunuhannya. Itu yang masih kita diskusikan di dalam tim soal Pak Harto,”.

Alasan Dari Panitia 17

Panitia 17 pun memiliki alasan tersendiri tentang usulan tersebut. Ketua Tim Panitia 17, Jimly Asshiddiqie, menjelaskan, “Dia kan jadi presiden terlama dalam sejarah Indonesia. Karena sesudah reformasi paling lama Presiden 10 tahun. Selama ini dia terlama. Semua orang ada plus minusnya,”.

Selain nama Soeharto, Jimly juga mengusulkan agar nama mantan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, menggantikan Jalan Medan Merdeka Barat. Lalu Jalan Medan Merdeka Utara diubah menjadi Jalan Soekarno, dan Jalan Medan Merdeka Selatan diubah menjadi Jalan Hatta.

Lika Liku Nama Soeharto Jalan Medan Merdeka-3-jakarta punya cerita

Ketiga nama yang disebutkan diatas tak menimbulkan kontroversi, kecuali nama Soeharto.

Keluarga Menganggap Itu Pelecehan

Sementara itu, Yayasan Keluarga Besar Soeharto (YKBS) Indonesia menolak keras hal tersebut. Mereka tak ingin nama Presiden kedua Republik Indonesia Soeharto dijadikan nama sebuah jalan.

Ketua YKBS Indonesia, Kiswadi Agus, menjelaskan, “Kami mengucapkan terima kasih terhadap niat Tim 17 mengabadikan nama Pak Harto menjadi sebuah nama jalan. Tapi terus terang kami menolak nama Pak Harto menjadi sebuah nama jalan. Itu merupakan bentuk pelecehan terhadap jasa-jasa yang telah diberikan Pak Harto,”

Apa yang membuatnya merasa terlecehkan? Bukankah bagus jika nama beliau diabadikan menjadi nama jalan?

Kiswadi Agus pun menambahkan, “Sebelumnya maaf ya, misalnya kondektur bus lewat jalan Soeharto, maka kondektur bus akan menyingkatnya  menjadi ‘Harto-Harto siapa yang mau di Harto’. Begitu pula para penumpangnya akan bilang ‘Mas, saya turun di Harto’. Apa bukan Pelecehan?”.

Menurutnya, menjadikan nama Pak Harto menjadi sebuah jalan adalah ide buruk. Namun, beda cerita jika nama Pak Harto dijadikan nama sebuah gedung, seperti Bung Karno.

Gubernur DKI Jakarta Angkat Bicara

Joko Widodo pun angkat bicara mengenai penggantian nama jalan tersebut. Beliau menjelaskan bahwa Panitia 17 akan mengajukan hal tersebut kepadanya, lalu beliau akan membuat surat dan menyampaikannya kepada Presiden RI”.

Lika Liku Nama Soeharto Jalan Medan Merdeka-jakarta punya cerita

Namun Jokowi hanya menyepakati dua nama saja, yakni Jalan Merdeka Utara menjadi Jalan Soekarno dan Jalan Merdeka Selatan menjadi Jalan Hatta. Sedangkan sisanya? “Mengenai nama Bang Ali Sadikin dan Pak Soeharto masih kontroversial. Kita fokus dulu pada Bung Karno dan Pak Hatta,” jelas Jokowi.

Rencananya, kedua jalan yang telah disepakati akan berganti nama secara resmi pada 10 November 2013 nanti. “Kita ingin membangun rekonsiliasi melalui nama-nama pahlawan itu. Saya setuju. Sekarang, renca ini masih dimatangkan,” tegas Jokowi.

Semoga lika-liku penggantian nama ini tak terseret semakin jauh.

Menurutmu, apakah pantas keempat ruas Jalan Medan Mereka berganti nama? Silakan berkomentar.

sumber: kompas.com, liputan6.com, detik.com, okezone.com

This post has already been read 1007 times!

Let's Share...Email this to someoneShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestPrint this pageShare on RedditShare on StumbleUponShare on TumblrTweet about this on Twitter